Senin, 13 Agustus 2018

Warga Bangkalan Jalan 500 Meter Untuk Dapatkan Air Bersih

BANGKALAN – Kekeringan melanda sejumlah wilayah di Bangkalan. Berdasar rilis badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), 12 kecamatan dan 25 desa masuk kategori rawan kering kritis sehingga butuh bantuan pasokan air bersih. Salah satunya, Kecamatan Kokop.

Sejumlah desa di kecamatan itu mengalami krisis air bersih. Sungai dan sumur banyak mengering. Untuk kebutuhan sehari-hari, warga membeli air bersih. Sadari, warga Desa Bandang Laok, Kecamatan Kokop, menyampaikan, kekeringan sudah cukup lama melanda.

Warga membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya, mencuci, minum, dan mandi. ”Kalau sudah kemarau begini, kering. Sumur-sumur kering. Kalau beli harus irit pakai air.

Mandi kadang sekali sehari agar air tidak cepat habis,” tuturnya Senin (30/7). Pria 41 tahun itu menyatakan, bantuan air bersih jarang didapatkan warga Desa Bandang Laok. Meski ada bantuan air, tidak semua warga kebagian.

Selain berharap bantuan, sebagian warga berupaya membuat sumur bor. Ada yang berhasil, ada pula yang gagal. Air dari sumur bor merupakan milik pribadi sehingga untuk menikmati warga harus membeli. ”Ada yang bisa dibeli, ada yang tidak. Bantuan air masih kurang. Sebulan kadang tidak ada bantuan air.

Di sini ada bendungan, tapi kecil,” papar lelaki yang kemarin berkopiah hitam itu. Sadari menjelaskan, beberapa warga memilih membeli air bersih. Harganya variatif, mulai Rp 130 ribu hingga Rp 150 ribu per pikap.

Harga air bergantung pada jarak tempuh pengiriman. Satu pikap memuat tandon air. ”Isinya sekitar 700–800 liter air. Itu bisa buat tiga sampai lima hari, tergantung pemakaian,” jelasnya. Di Desa Bandang Laok dua perempuan berjalan. Masing-masing membawa jeriken berkapasitas 20 liter.

Mereka menuju salah satu sumur di samping rumah warga. Mereka hendak menimba air. Di dalam sumur itu, air tidak begitu melimpah dan warnanya kehijauan. ”Jauh, sekitar 500 meter untuk ke sini. Tiap hari ambil air di sumur ini untuk masak dan wudu.

Kadang saya balik tiga kali sehari untuk ambil air di sumur ini,” kata Hamimah, 37, sembari menimba air di sumur warga yang masih selamat dari bencana kekeringan. Dia berharap ada bantuan air bersih dari pemerintah.

Setidaknya untuk kebutuhan masak dan minum sehingga warga tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan air. ”Jarang mandi sudah biasa. Masak dan minum kan kebutuhan, harapannya ada bantuan,” ucapnya.

Di tempat terpisah, Sekretaris Kecamatan Kokop Moh. Yatim menyebutkan, ada sekitar 12 desa yang mengalami kekeringan di daerahnya. Mereka butuh pasokan air bersih untuk konsumsi. ”Ada warga yang beli air Rp 150 ribu satu pikap. Setiap tahun kondisinya seperti ini. Kami sudah mengajukan permohonan bantuan ke pemerintah kabupaten,” terangnya.

Dari beberapa pengalaman yang pernah dilakukan masyarakat, bor sumur bisa sampai 84 meter baru mencapai titik sumber air. Bahkan ada yang sampai kedalaman 100 meter lebih. Krisis air pasti dirasakan masyarakat desa bila musim kemarau tiba.

”Pertengahan April mulai krisis air. Waktu itu masih dibantu dengan hujan. Ada yang menadah air hujan buat stok. Sekarang tidak ada hujan, warga sulit dapat air,” pungkasnya. (mr/bad/hud/bas/JPR)
Warga Bangkalan Jalan 500 Meter Untuk Dapatkan Air Bersih
4/ 5
Oleh